Membentuk Santri di Sekolah Umum

Oleh : Alian Suhendra, Gr.M.Pd.*

ZONABENGKULU.COM – Mulanya sekolah hadir sebagai jawaban dari tuntutan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan Industri, mungkin ini terjadi saat revolusi industri di Inggris ataupun revolusi sosial di Prancis. Khusus di Indonesia sekolah lahir sebagai perlawanan atas diskriminasi pendidikan terhadap pribumi. Lantas populerlah pendidikan model pesantren yang secara tradisionil mengakar menjadi solusi persoalan pendidikan di Indonesia.

Pesantren kemudian menjadi salah satu tempat pendidikan populer, menuntut ilmu agama dan ilmu tentang kehidupan. Seiring perkembangan zaman banyak kemudian pesantren bermetamorfosa menjadi sekolah modern. Namun ketersediaan lembaga pendidikan seperti pesantren ini belumlah cukup menjawab kebutuhan dan menampung banyaknya peserta didik muslim di Indonesia.

Lahirnya sekolah islam terpadu misalnya, hanya menjawab sebagian kecil problem ketersediaan pendidikan islami bagi masyarakat. Bagaimanapun sekolah berlabel islam terpadu terkadang tidak dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan bawah. Sekolah madrasah dibawah plat merah kementerian agama juga belum menjadi pilihan utama dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Madrasah masih tersisih ditengah kepungan sekolah umum yang menggurita.

Pada akhirnya sekolah negeri yang umum masih menjadi pilihan utama. Minat yang tinggi ke sekolah umum, kalau tidak dibarengi dengan bekal pendidikan agama yang cukup, akan terasa gersang untuk pendidikan generasi muda. Makanya diperlukan amunisi dan sarana pada sekolah umum untuk menunjang pendidikan islami yang baik.

Pembelajaran agama di Sekolah, terkadang masih kurang maksimal. Tanyakan kepada guru agama, akan kita temukan jawaban kurangnya perhatian dan minat siswa terhadap pelajaran agama. Akibatnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti terkadang hanya sebatas ceremoni saja. Mirisnya, guru agama pun biasa dicueki siswa. Alasannya sederhana, hanya karena pelajaran agama tidak ikut diujikan dalam Ujian Nasional.

Kegalauan guru agama dalam menanamkan pembelajaran agama di Sekolah tidak hanya pada aspek teoritik saja, melainkan juga dalam tataran praktek beragama siswa. Banyak kemudian siswa tetap abai dengan kesadaran beragamanya. Menjalankan kewajiban dan beribadah atas Tuhannya sering dilalaikan. Sholat subuh misalnya, seringkali hampir lebih setengah dari anggota kelas yang lalai mengerjakan. Lantas masihkan kita berharap hanya dengan mata pelajaran pendidikan agama saja?

pertama, Pendidikan agama sebaiknya juga ditanamkan sejak dini di lingkungan tempat tinggal. Tugas kita semua mendidik anak untuk menjadi insan yang taat beragama. Sekolah sebenarnya dapat dijadikan pusat pembenahan karakter beragama. Namun, diperlukan program inovatif yang sesuai kondisi sekolah. Beruntungnya ada banyak contoh program yang mulai digagas sekolah umum. Layaknya sekolah islam terpadu misalnya, menjalankan program sholat dhuha bersama di pagi hari. Atau bisa dengan membaca Quran bersama yang dijadikan Kultur dan kebiasaan di sekolah.

kedua, Optimalisasi kegiatan ekstrakurikuler rohis dan keagamaan juga perlu dilakukan. Berdirinya kepengurusan rohis sekolah mampu membentuk karakter siswa yang menonjol diantara banyaknya warga sekolah. Kader rohis yang meskipun sering dicurigai sebagai benih radikal, nyatanya mampu menunjukkan sikap dan karakter yang baik. Alih-alih radikal, kader rohis kadang membuat kita salut dengan ketaatan beragama sejak dini. Mampu membuat komunitas hijrah yang memberi energi positif bagi kemajuan sekolah

ketiga, Santri di Sekolah umum memang belumlah bisa membaca kitab kuning layaknya santri di pesantren. Tapi santri yang ada di Sekolah adalah hasil dari program keislaman dan kader ekstrakurikuler rohis yang mulai menjadi aktivis. Mereka mulai menebar kebaikan dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Demikian tidak salah jika kita menyebut siswa yang taat beragama di sekolah umum ini sebagai santri.

Pada akhirnya memang diperlukan dukungan dari semua pihak, kementerian agama dan kementerian pendidikan selayaknya menjadi motor dalam mencipta kehidupan islami di sekolah. Islami bukanlah hanya untuk orang islam saja, tapi islam itu rahmatan lil’alamiin. Yang tidak buang sampah sembarangan itulah yang islami. Siswa yang tidak curang saat ujian itu juga islami.

Dukungan semua pihak untuk membentuk santri di Sekolah umum adalah suatu keniscayaan. Program kurikulum yang terpadu dan islami, maupun program ekstrakurikuler keagamaan yang terbina dengan baik sangat diperlukan. Program yang baik wajib diperhatikan dan mendapat dukungan kita semua.

Semua warga sekolah, terutama peran guru dan kepala sekolah akan menjadi sentral perhatian dan ketauladanan. Berjamaah dalam ibadah, dan gotong royong dalam kebaikan. Sekolah akan mendapat barokah (keberkahan) jika semua bersikap baik, karena ilmu adalah hikmah, siswa yang taat dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu pasti akan mendapatkan pahala kebaikan. Begitu pun dengan guru yang mengajar secara ikhlas, pasti akan mendapatkan ganjaran disisi Tuhan dengan ganjaran pahala yang besar.

Semoga di Indonesia, kita mampu menciptakan pendidikan yang memanusiakan manusia. Sekolah hanya menjadi salah satu tempat penempaan anak muda yang berislam. Membentuk santri di Sekolah umum memang tidaklah mudah, namun hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Yakinlah bahwa pendidikan memang bukanlah segalanya, tapi segala-galanya berawal dari pendidikan. Wallahualam

*penulis merupakan guru dan juga mentor Dakwah Sekolah

__Terbit pada
12 Februari 2021
__Kategori
Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *